Jumat, 29 Juni 2012

ACTIVE LEARNING


           Mata pelajaran Fiqih di MI merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada hukum-hukum islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sebagai tuntunan menuju kebaikan, sehingga dapat menjadi manusia yang berakhlak mulia. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran Fiqih maka muncul suatu metode yang hampir sama dengan CBSA yakni active learning. Sesungguhnya belajar aktif memperoleh inspirasi dari pernyataan (Confusius, 2004 ) mengatakan: Yang saya dengar, saya lupa. Yang saya lihat, saya ingat. Yang saya kerjakan, saya pahami.
Berhubungan dengan pemakaian strategi active learning di sekolah , merupakan upaya untuk dapat meningkatkan Proses Belajar dan Hasil Belajar Fiqih   serta  meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dalam  pembelajaran fikih dapat menerapkan semua dari 101 metode pembelajaran  aktif
Pembelajaran aktif lebih banyak dipergunakan dalam penbelajaran dibandingkan dari pada pembelajaran konfensional untuk mencapai tujuan belajar karena siswa lebih aktif (student centre) kalau metode konfensional lebih pada guru yg aktif (teacher centre)



memahami1
                                                   BAB II
ACTIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN FIKIH DI MI/SD
A.   Pengertian.

 Active Learning  berasal dari bahasa Inggris. active adalah  aktif; bersemangat  atau  ikut  giat .Sedangkan learning adalah pembelajaran. Sehingga active learning berarti pembelajaran aktif. Pembelajaran adalah Suatu proses atau cara yg dilakukan agar seseorang dapat melakukan kegiatan belajar . Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku karena interaksi  dengan individu atau lingkungan dan pengalaman
Sedangkan menurut Hisyam zaini (2002) metode active  learning adalah metode pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif, dengan menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi  pelajaran, memecahkan  masalah, atau  mengaplikasikan  apa yang baru mereka  ketahui ke  dalam  persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Disini dimaksutkan Pembelajaran aktif (active learning) untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Fikih adalah Ilmu pengetahuan tentang hokum hokum syara’ (agama) tentang perbuatan manusia yg digali atau ditemukan dari dalil dalil terperinci.
B.     Tujuan Pembelajaran Fikih di M I
Mata pelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyab bertujuan membekali peserta siswa:
1.Mengetahui dan membekali cara cara pelaksanaan hokum islam, baik yg menyangkut ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan social.
2. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hokum islam dengan benar dan baik sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesame manusia dan makhluk lainya maupun hubungan dengan lingkungannya.
2
Mata Pelajaran Fiqih di MI merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada hokum hukum islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sebagai tuntunan menuju kebaikan, sehingga dapat menjadi manusia yang berakhlak mulia. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran Fiqih maka muncul suatu metode yang hampir sama dengan CBSA yakni active learning. dengan CBSA yakni active learning.  Pernyataan (Confusius, 2004) mengatakan:  yang saya dengar, saya lupa   yang  saya lihat, saya ingat .yang saya kerjakan, saya  pahami.  Berhubungan dengan pemakaian strategi active learning di sekolah , merupakan upaya untuk dapat meningkatkan Proses Belajar dan Hasil Belajar  serta  meningkatkan motivasi belajar siswa.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementar
penelitian McKeachie (1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini
menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfuciu sseperti tersebut diatas  Pernyataan (Confusius, 2004) mengatakan
 Ketiga pernyataan ini (maksudnya kata kata bijak tersebut)  menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi pembelajaran.  Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu : Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai. Kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100  kata
per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Otak   manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik .Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan hingga 117% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual, kesan yang masuk dalam diri anak didik semakin kuat, sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap materi pembelajaran
Cara.kerja.otak.
Belahan kanan otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan kata. Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih cepat dari korteks otak kanan, serta mengatur dan mengarahkan seluruh proses otak kanan. Oleh karena itu sebagian proses mental jauh lebih cepat dibanding pengalaman atau pemikiran sadar seseorang (Win Wenger, 2003:12-13). Strategi pembelajaran konvensional pada umumnya lebih banyak menggunakan belahan otak kiri (otak sadar) saja, sementara belahan otak kanan kurang diperhatikan. Pada pembelajaran dengan Active learning (belajar aktif) pemberdayaan otak kiri dan kanan sangat dipentingkan.
Thorndike,(BimoWagito,1997)mengemukakan,3.hukum.belajar,yaitu:
1. law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara.stimulusdan.respons.
2. law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara.stimulus.dan.responsakanmenja.dilancar.
3. law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu diulang.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus kepada anak didik, agar terjadinya respons yang positif pada diri anak didik. Respons akan menjadi kuat jika stimulusnya juga kuat. Ulangan-ulangan terhadap stimulus dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik kalau dapat menghasilkan hal-hal yang menyenangkan. Efek menyenangkan yang ditimbulkan stimulus akan mampu member kesan yang mendalam pada diri anak didik Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada,tujuan pembelajaran dengan sukses .Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional
.Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)
C.    Perbedaan pendekatan pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan  konvensional.

Pembelajaran konvensional                                              Pembelajaran Active learning
-. Berpusat pada guru                                                           -   Berpusat pada anak didik
- Penekanan pada menerima pengetahuan                           -   Penekanan pada menemukan penget
- Kurang menyenangkan                                                      -   Sangat menyenangkan
- Kurang memberdayakan semua                                         -   Memberdayakan semua
  indera dan potensi anak didik                                                 indera dan potensi anak didik
- Menggunakan metode yang monoton                               -    Menggunakan banyak metode
- Kurang banyak media yang digunakan                             -    Menggunakan banyak media
- Tidak perlu disesuaikan dengan                                         -   Disesuaikan dengan
   pengetahuan yang sudah ada                                                  pengetahuan yang sudah ada
Dari perbandingan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran dikelas. Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggta kelas yang lain dalam memecahkan masalah.  Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata menggunakan teknik active learning (belajar aktif) di kelas menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar siswa.
D.  Aplikasi Active learning (belajar aktif)
L. Dee Fink (1999) mengemukakan   model active learning (belajar aktif) sebagai berikut.:1.Dialog dengan diri sendiri adalah proses di mana anak didik mulai berpikir secara reflektif mengenai topik yang dipelajari. Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengenai apa yang mereka pikir atau yang harus mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan mengenai topik yang dipelajari. Pada tahap ini guru dapat meminta anak didik untuk membaca sebuah teks dan meminta mereka menulis apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa pengaruh bacaan tersebut terhadap diri mereka. Dialog dengan orang lain bukan dimaksudkan sebagai dialog parsial sebagaimana yang terjadi pada pengajaran tradisional, tetapi dialog yang lebih aktif dan dinamis ketika guru membuat diskusi kelompok kecil tentang topik yang dipelajari.
Observasi terjadi ketika siswa memperhatikan atau mendengar seseorang yang sedang melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan apa yang mereka pelajari, apakah itu guru atau teman mereka sendiri. 2. Doing atau berbuat merupakan aktivitas belajar di mana siswa berbuat sesuatu, seperti membuat suatu eksperimen, mengkritik sebuah argumen atau sebuah tulisan dan lainsebagainya. Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di sekolah.
 Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak didik. Metode tersebut antara lain Trading Place (tempat-tempat perdagangan), Who is in the Class? (siapa di kelas), Group
Resume (resume kelompok), prediction (prediksi), TV Komersial, the company you keep (teman yg anda jaga)QuestionStudentHave (Pertanyaan Peserta Didik), reconnecting (menghubungkan kembali),dan lain sebagainya …
Contoh:  Question.Student.Have.(PertanyaanPeserta.Didik).
Metode Question Student Have ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan anak didik sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Metode ini menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan pada siswa yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan
.Prosedur :
1.Bagikan.kartu,kosong,kepada,siswa.
2. Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau,sifat.pelajaran.yang.sedang.dipelajari.(fikih)
3. Putarlah kartu tersebut searah keliling jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya, peserta tersebut harus membacanya dan memberikan tanda cek di sana jika pertanyaan yang sama yang mereka ajukan
4. Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta telah memeriksa semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut. Fase ini akan mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak dipertanyakan. Jawab masing-masing pertanyaan tersebut dengan :
a. Jawaban langsung atau berikan jawaban yang berani
b. Menunda jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat
c. Meluruskan pertanyaan yang tidak menunjukkan suatu pertanyaan
5. Panggil beberapa peserta berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka tidak memperoleh suara terbanyak
6. Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dijawab pada pertemuan berikutnya.
Variasi :
1. Jika kelas terlalu besar dan memakan waktu saat memberikan kartu pada siswa, buatlah kelas menjadi sub- kelompok dan lakukan instruksi yang sama. Atau kumpulkan kartu dengan mudah tanpa menghabiskan waktu dan jawab salah satu pertanyaan
2. Meskipun meminta pertanyaan dengan kartu indeks, mintalah peserta menulis harapan mereka dan atau mengenai kelas, topik yang akan anda bahas atau alasan dasar untuk partisipasi kelas yang akan mereka amati.
3. Variasi dapat pula dilakukan dengan meminta peserta untuk memeriksa dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut, sehingga fase ini akan dapat mengidentifikasi pertanyaan mana yang mendapat jawaban terbanyak, sebagai indikasi penguasaan anak terhadap objek yang dipertanyakan.
Untuk Pembelajaran fikih di Madrasah Ibtidaiyah  metode metode tersebut dapat diterapkan. Tergantung materi yg akan diterapkan dalam pembelajaran Dalam pembelajaran aktif (active learning) lebih tertuju pada  siswa yg lebih  aktif dan terjadi komunikasi dua arah atau lebih. Dalam hal ini  Guru hanya sebagai fasilitator atau  teman belajar
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan sbb:
1.      Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki
2.       Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu : Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai.
3.      untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran dikelas. Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggta kelas yang lain dalam memecahkan masalah.  Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi.
4.      Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak didik.


8
DAFTAR  PUSTAKA

Lukman  Zain 2009,Pembelajaaran Fikih,Depag, Jakarta
Silberman Melvin, l 2011,Active Learning 101 Cara belajar siswa active edisi revisi, Nusa media, Bandung
Nana Sujana, 1998 Cara Belajar Siswa Aktive Dalam Proses Belajar Mengajar,Cv Sinar Baru Ofset. Bandung.
Rozak Abd ,2010,  Permenag no 2 tahun 2008 Tentang Pendidikan, FITK PERS, uin ,Jakarta

MULTIKULTURALISME


MULTIKULTURALISME

Dari Pluralisme ke Multikulturalisme
Dalam dunia yang semakin global masyarakat masyarakat semakin majemuk  Globalisasi menciptakan mobilitas manusia,teknologi dan gagasan  gagasan semakin intensif dan ekstensif melintas pelbagai ranah . Tingginya frekuensi pertemuan berbagai budaya dan bahasa membuat hubungan hubungan antar masyarakat semakin beranekaragam  dan komplek.

Pluralisme
Berbicara tentang kesatuan dalam keanekaragaman (unity indiversity) untuk mengukuhkan sebuah komunitas multi kultur (dan trans-kultur) seperti Indonesia kita dihadapkan pertanyaan, dapatkah realitas itu plural sekaligus tunggal. Pertanyaan semacam ini sudah berkembang  dalam pemikiran barat. Lazimnya terdapat tiga aliran pemikiran : Pantheisme, Monisme, dan pluralisme  banyak pemikir yang menganggap pantheisme masih sub kategori monisme.
Aliran pemikiran Pantheisme melihat sumber realitas adalah ‘Tuhan’ dan Tuhan adalah segala galanya . Manusia dan alam merupakan aspek aspek  dari Tuhan yang memiliki ketuhanan. Monisme  memandang dunia yang alami seluruhnya dihubungkan kedalam suatu keseluruhan yang tunggal. Jadi pada dasarnya alam semesta adalah sesuatu. Pendekatan ini mengingatkan kita kepada gagasan filosof yunani kuno tentang ketunggalan sumber alam semesta . Thales misalnya mengatakan dunia ini terbentuk  dari air . Sementara Heraclitus menyatakan bahwa semesta berasal dari api.Anaximenes meyakini bahwa sumber kehidupan berasal dari udara.atau Anaximader yang yakin bahwa dunia terbuat dari suatu substansi yang dijuluki apeiron,yang menghasilkan elemen dasar dari air,udara,dan api, Salah satu pantheis terkenal adalah Baruch Spinoza(1632-1677)
Moral  Pluralism emengacu kepada serangkaian nilai nilai norma yang tidak dapat dibandingkan satu dengan lainya dan satu dengan yang lainya tidak dapat saling mereduksi . Eksistensi nilai pluralism yang tak dapat direduksi tersebut berarti bahwa konflik konflik politik boleh jadi sulit untuk ditangani. (konflik politik tak terpecahkan).Pluralisme juga mengacu sebuah gagasan distingtif (distinctive) dalam ilmu politik yakni bahwa gagasan kekuatan politik adalah harus didistribusikan diantara sejumlah pusat pusat atau institusi institusi yang berbeda yang masing masing  saling mempengaruhi dan membatasi aktivitas  satu dengan  lainya .Plural bukan tanpa konflik ,akan tetapi konflik karena perbedaan  harus ditata bukan ditindas . Konflik dapat diperdamaikan (diresolusikan) melalui negosiasi bukan melalui penggunaan kekuatan dan kekerasan.

Multikulturalisme dan Masyarakat Multikultural
Pada th 1901 Australia merupakan Negara yang menerapkan kebijakan proteksionis dalam perdagangan yang sekali gus White Australia Policy,kebijakan proteksionis yang menutup pintu imigrasi kepada non kulit putih terutama keturunan Inggris . Setelah perang dunia ke dua banyak orang Eropa yang kehilangan tempat tinggal. Australi termasuk Negara maju yang tidak terkena dampak yang berat akibat perang itu .Negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi sehingga membutuhkan banyak pekerja baru.Kebutuhan untuk mendapatkan pekerja pekerja baru membuat Australia terlibat dalam menampungorang orang ini (migration worker)
Pada th 1978 melalui laporan Galbaly multikulturalisme diidentifikasi sebagai konsep kunci dalam memformulasikan kebijakan pemerintah . Multikulturalisme mulai berkembang awal th 1970an dinegara liberal barat seperti yang dicontohkan Australia. Multikulturalisme banyak dipakai oleh banyak Negara kerkembang sebagai salah satu wacana politik atau kebijakan. Multikulturalisme dapat mengacu kepada masyarakat dengan dua cirri khusus yaitu keanekaragaman ras atau keaneka ragaman ednik(poli-ednik).

Multikulturalisme dari Pemaknaan Teoritis
Multikulturalisme lazim dimaknai sebagai sebuah pengesahan yang positif tentang keanekaragaman komunal yang muncul dari perbedaan-perbedaan ras,ednis,bahasa,dan kepercayaan religious.Ia lebih merupakan suatu posisi alih alih sebuah doktrin politik yang serasi dan programatik.Sulit menjustifikasi kewarganegaraan multicultural. Akan tetapi penting untuk membedakan hal hal yang eksplisit dan implit. Yang pertama ia merupakan seperangkat kebijakan Negara untuk mengatur perbedaan perbedaan.Yang kedua ia adalah strategi yang meningkatkan resistensi terhadap kebijakan kebijakan manajemen negara dari perbedaan perbedaan(Joppke2002)
Multikulturalisme merupakan sebuah hasrat untuk perbedaan dan sekali gus sebuah hasrat untuk kesetaraan dan keadilan.Teori kulturalisme meminjam pemikiran liberalisme dan berupaya melampaui liberalism.Bentuk multukulturalisme ini sering berhubungan dengan doktrin tentang hak hak minoritas dalam mempromosikan keadilan social atas nama kelompok kelompok yang telah dirugikan atau dimarginalkan di dalam masyarakat barat yang konvensional.

Kebebasan dan Toleransi
Ketika berbicara tentang multikulturalisme ada dua konsep penting yang sulit dilepaskan darinya yaitu kebebasan dan toleransi.dalam arti sederhana kebebasan berarti ketiadaan dari paksaan paksaan atau pembatasan pembatasan.kebebasan masih menjadi perdebatan konsepsi negatif dan positif. Kebebasan negative (bebas dari sesuatu) berarti non interverensi, ketiadaan dari kendala kendala eksternal,biasanya difahami untuk diartikan sebagai hokum atau semacam kendala fisik. Kebebasan positif (bebas melakukan sesuatu) difahami dengan berbagai cara yakni sebagai otonomi,atau penguasaan diri(self mastery),sebagai pengembangan diri atau sebagai bentuk moral atau kebebasan dalam diri(inner freedom).
Toleran sering difahami sebagai suatu kerelaan untuk membiarkan sendiri (leave alone) dengan sedikit refleksi pada motif motif yang ada dibalik posisi tersebut. Jadi toleransi mengesankan suatu penolakan terhadap campur tangan atau kerelaan untuk sabar terhadap sesuatu.
Toleransi berhubungan erat dengan tradisi liberal sekalipun ia mendapat dukungan diantara para sosialis dan sebagian konserfatif, ia melibatkan suatu penolakan untuk bercampur tangan dengan membatasi atau mengecek tingkah laku atau keyakinan dari orang lain. Ketidak toleranan mengacu pada penolakan untuk menerima tindakan tindakan, pandangan pandangan dan keyakinan keyakinan dari orang lain. Hal ini mengesankan suatu keberatan yang tak beralasan dan tak dibenarkan terhadap pandangan pandangan,atau tindakan tindakan lain yang mendekatkan kepada kefanatikan atau purbasangka.

Batas batas Toleransi
Toleransi ada batasnya yakni ketika ia menjadi eksesif atau merugikan orang lain.Pluralisme politik, ekspresi ekspresi politik, idiologi idiologi,dan nilai nilai yang tak dibatasi, memastikan bahwa setiap individu dapat mengembangkan pandangan mereka sendiri di dalam suatu pasar yang menyeluruh tentang gagasan gagasan dan partai partai politik tersebut berkompetisi demi kekuasaan. Jadi untuk melarang partai politik atau menekan ekspresi pandangan pandangan politik, bahkan dalam membela toleransi,dapat secara sederhana menjadi penyakit bagi dirinya.
Tokoh tokoh Multikulturalisme diantaranya Charles Taylor(1913) ,Will Kymlicka (1962),Bhikhu  Parekh (1935)
Kita memerlukan Kewarganegaraan Multikultural karena kewarga negaraan multicultural merupakan cara yang paling efektif untuk menegosiasikan keaneka ragaman guna menghasilkan integritas social atau menyatukan segala hal. Kewarganegaraan multikultural merupakan sebuah pandangan ke luar, pendekatan internationalis terhadap dunia untuk mempertahankan kepentingan nasional. Untuk menggapai hal ini kita perlu membangun pluralism sipil (civic pluralism) yang menawarkan kemungkinan dari pengertian paskanasionalis yang riil dari tujuan bersama.
Tantangan tantangan bagi masyarakat Indonesian yang Majemuk
1.      Akhir Perang Dingin (Pasca-otoriterianisme).
2.      Globalisasi yang pesat
Untuk menggapai pluralisme sipil Negara seperti Indonesia harus cukup kuat untuk bertindak sebagai penengah yang efektif dari sejumlah perbedaan. Negara tetap menjadi mekanisme distributive untuk memastikan akses yang setara terhadap sumberdaya dan partisipasi tetapi ia juga harus menjadi broker dari perbedaan perbedaan simbolik dan cultural mengingat klaim klaim semakin banyak diekspresikan melalui wacana wacana identitas dan pengakuan.


Strategi Strategi guna Memperkuat Pluralisme Sipil di Indonesia
Berikut beberapa butir gagasan yang mungkin terpikirkan:
1.      Mempersiapkan ruang publik dimana keaneka ragaman kehidupan (lifeworld) yang berbeda dapat berkembang
2.      Menciptakan tempat tempat dimana pengertian pengertian local dan spesifik bisa dibuat
3.      Menangani “batas kabur”yang dihasilkan dari paradoks tentang divergensi kehidupan dunia yang meningkat dan tumbuhnya kepentingan dari sejumlah perbedaan
4.      Mengatur kehidupan dunia yang lebih otonom sehingga lebih banyak pergerakan dapat muncul.
5.      Dengan kehidupan yang lebih divergen dan batas batas mereka lebih kabur, fakta sentral dari kehidupan komunitas menjadi multiplisitas yang bermakna dan titik temu yang terus berlanjut.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK


TENGGELAMNYA  KAPAL  VAN  DER  WIJCK

Pengarang                   : HAMKA
Penerbit                       : Dinas Penerbitan Balai Pustaka Jakarta   1957
Cetakan                       : Keenam
Tebal                           : 200 halaman
Pelaku Utama              : Zainuddin dan Hayati
Sinopsis
Roman ini menceritakan tentang kisah cinta antara Zainudin dan Hayati yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Zainudin adalah seorang pemuda dari perkawinan campuran Minangkabau dan Makasar, ayahnya Zainudin yang berdarah Minangkabau mengalami masa pembuangan ke Makasar dan kawin dengan Ibu Zainudin yang berdarah asli Makasar, mempunyai seorang kekasih asal Batipun bernama Hayati, namun hubungan mereka harus berakhir karena adat, karena berdasarkan sebuah rapat, ibu Zainudin tidak dianggap sebagai manusia penuh. Akhirnya Hayati menikah dengan seorang pemuda bangsawan asli Minangkabau bernama Azis. Azis bukanlah orang yg begitu baik. Mendengar pernikahan itu Zainudin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk sahabatnya yang paling setia, kondisi Zainudin berangsur-angsur membaik dan pada akhirnya Zainudin jaya menjadi seorang pengarang yang sangat terkenal dengan memaparkan karya yang berpandukan kisah hidupnya sendiri. Zainudin tinggal di Surabaya. Di Surabaya inilah Zainudin bertemu dengan Hayati yang diantar oleh suaminya sendiri Azis, untuk dititipkan kepadanya, Aziz dan Hayati sementara terpaksa menumpang di rumah Zainuddin setelah kehabisan harta. Aziz akhirnya meniggalkan Hayati dengan harapan Hayati dapat bersama Zainuddin semula. Tetapi Zainuddin menolak untuk menerima Hayati demi membalas dendamnya terhadap Hayati. kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih membara, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah bersuami, cinta yang masih menyala itu berusaha untuk dipadamkan, kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke Batipun.Tetapi nasib malang menimpa Hayati, dalam perjalanan pulang ke Batipun itu, kapal Van Der Wijck yang ditumpanginya tenggelam. Hayati bisa diselamatkan. Dia meninggal setelah Zainuddin mengajarkannya mengucap kalimah syahadah.Hayati meninggal dunia di rumah sakit di Cirebon. Di saat-saat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan melihat bahwa sebenarnya Zainudin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat. Tidak berselang lama, Zainudin menyusul Hayati ke alam baka, dan jenazah Zainudin dimakamkan persis di samping makam.mantan,kekasihnya,Hayati.

 Aspek keislaman dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, termasuk dalam roman  aspek-aspek keislaman dan dakwah keislaman yg  dapat kita rasakan. Dalam roman tersebut, dakwah keislaman itu terasa dari penokohan yang dilakukan pengarang. Sebagai contoh, ada pernyataan dalam roman tersebut bahwa tokoh Zainuddin, setelah berpisah dengan Hayati, berniat dan bercita-cita untuk memperdalam ilmu dunia dan akhirat supaya kelak menjadi seorang yang berguna. Angan-angan Zainuddin adalah menjadi orang alim, jadi ulama, sehingga apabila kembali ke kampungnya dapat membawa ilmu. Zainuddin sendiri adalah turunan dari ayah dan ibu ahli ibadat. Apa yang dilakukan Hamka dalam penokohan di atas, menurut saya adalah salah satu cara dakwah yang dilakukannya, suatu upaya untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa betapa mulia orang yang berilmu dan ahli ibadat. Dakwah yang dilakukannya itu sangat halus. Adapun aspek-aspek religius itu yakni: Aqidah, Akhlak. Syariah. Adapun penjelasan mengenai aspek-aspek tersebut sebagai berikut:

1.Aqidah. Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka aqidah atau kepercayaannya sangat kental dengan budaya islami untuk lebih jelasnya penulis memaparkan penggalan ceritanya sebagai berikut :“…………..Lepaskan saya berangkat ke sana (Padang). (1986 : 22) Kabarnya konon, di sana hari ini telah ada sekolah agama. Pelajaran akhirat telah diatur dengan sebagus-bagusnya. Apalagi, puncak Singgalang dan Merapi sangat keras seruannya kepadaku rasanya. Saya hendak melihat tanah asalku, tanah tempat ayahku dilahirkan dahulunya. Mak Base banyak orang memuji daerah Padang, banyak orang yang bilang agama islam masuk kemari pun dari sana.
2.Akhlak.
Akhlak Islam adalah suatu sikap mental dan laku perbuatan yang luhur. Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, dapat ditemukan berbagai akhlak yang sangat mulia terutama dari sang pemeran utama yakni tokoh Zainuddin. Kebaikan moral Zainuddin bisa kita lihat pada penggalan cerita berikut ini:“Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli seni, ahli syair, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”(1986:27).
3.Syari’ah.
Kata syari’ah dari  bahasa Arab yang artinya jalan-raya. Kemudian bermakna jalannya hukum, perundang-undangan. Karena itu perkataan atau istilah “Syri’ah Islam” memberi arti hidup yang harus dilalui atau perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh seorang Islam. Hukum Tuhan itu adalah Syari’ah itu mengandung kebenaran mutlak, artinya tidak ada kelemahan dan pertentangan,dalam,dirinya sendiri.
 Unsur,Intrinsik.
1.Tema
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ini tentang kasih tak sampai. Sangat kental dengan budaya Minang yang sangat patuh akan peraturan adat.
Adapula penggalanceritanya:“…….apa yang dikerjakannya, padahal cinta adalah sebagai kemudi dari bahtera kehidupan. Sekarang kemudi itu dicabut, kemana dia hendak berlabuh, teroleng terhempas kian kemari, daratan tak nampak, pulau kelihatan. Demikianlah nasib anak mudayangmaksudnyatiadasampai(1986:123).
2.Alur/plot
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan alur maju mundur, karena menceritakan hal-hal yang sudah lampau atau masa lalu dan kembali lagi membahas hal yang nyata atau kembali ke cerita baru dan berlanjut. Ada lima tingkatan al
•Penyituasian
Tahap penyituasian, tahap yang terutama berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, memberikan informasi awal dan lain-lain.
Berikut ini merupakan tahap awal dari roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang berkaitan dengan  tahap penyituasian.“Di tepi pantai, di antara kampong Bara dan kampung Mariso berdiri sebuah rumah bentuk Makasar, yang salah satu jendelanya menghadap ke laut. Di sanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun duduk termenung seorang diri menghadapkan mukanya ke laut. Meskipun matanya terpentang lebar, meskipun begitu asyik dia memperhatikan keindahan alam di lautan Makasar, rupanya pikiranya telah melayang jauh sekali, ke balik yang tak tampak di mata, dari lautan dunia pindah ke lautan khayal (1986:10).
•Konflik
Tahap pemunculan konflik, peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik,  dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya.
Kejadian dan konflik yang dialami tokoh Hayati dan Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka bisa dilihat dari penggalan cerita berikut ini:
“Sesungguhnya persahabatan yang rapat dan jujur diantara kedua orang muda itu, kian lama kian tersiarkan dalam dudun kecil itu. Orang belum kenal percintaan suci yang terdengar sekarang, yang pindah dari mulut ke mulut, ialah bahwa Hayati, kemenakan Dt……..telah ber “intaian” bermain mata, berkirim-kirim surat dengan anak orang Makasar itu. Gunjing, bisik dan desus perkataan yang tak berujung pangkal, pun ratalah dan pindah dari satu mulut ke mulut yang lain, jadi pembicaran dalam kalangan anak muda-muda yang duduk di pelatar lepau petang hari. Hingga akhirnya telah menjadi rahasia umum.Orang-orang perempuan berbisik-bisik di pancuran tempat mandi, kelak bila kelihatan Hayati mandi di sana, mereka pun berbisik dan mendaham, sambil melihat kepadanya dengan sudut mata.Anak-anak muda yang masih belum kawin dalam kampung sangat naik darah.Bagi mereka adalah perbuatan demikian merendahkan derajat mereka seakan -akan kampung tak berpenjaga.yang terutama sekali yang dihinakan orang adalah persukuan Hayati, terutama mamaknya sendiri Dt…yang dikatakan buta saja matanya melihat kemenakannya membuat malu, melangkahi kepala ninik –mamak. (1986:57)
•TahapPeningkatanKonflik
Konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Tahap peningkatan konflik dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terjadi ketika Zainuddin dan Aziz sama-sama mengirimkan surat kepada orang tua Hayati, dari lamaran kedua pemuda itu, ternyata lamaran Aziz yang diterima karena orang tua Hayati mengetahui latar belakang pemuda yang kaya raya itu, sedangkan lamaran Zainudin ditolak karena orang tua Hayati tidak ingin anaknya bersuamikan orang miskin. Hal ini bisa terlihat dari penggalan cerita berikut ini:
”Kalam dia tertolak lantaran dia tidak ber-uang maka ada tersedia uang Rp.3000,- yang dapat dipergunakan untuk menghadapi gelombang kehidupan sebagai seorang mahluk yang tawakkal.” (1986:118)
•Klimaks
Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh (tokoh utama) yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama. Dalam Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, tahap klimaks terjadi ketika Aziz meminta supaya Zainuddin menikahi Hayati. Sekalipun dalam hati Zainuddin masih mencintai Hayati, Zainuddin menolak permintaan Aziz. Bahkan Zainuddin memulamgkan Hayati ke kampung halamannya dengan menggunakan Kapal Van Der Wijck. Hal ini bisa dilihat pada pernyataan berikut:
“Bila terjadi akan itu, terus dia berkata: “Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !.....Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengankapalitu,kekampungmu”.(1986:198).
•Penyelesaian
Tahap penyelasaian dalam Roman Tenggelamya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ketika Zainuddin mendapat kabar bahwa Kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam, sedangkan Hayati dirawat di Rumah Sakit  Dengan diterima Muluk sahabatnya Zainuddin menengok wanita yang sangat dicintainya itu. Rupanya pertemuan mereka itu adalah pertemuan yang terakhir karena Hayati menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan Zainuddin. Kejadian itu membuat Zainuddin merasakan penyesalan yang berkepanjangan hingga Zainuddin jatuh sakit dan meninggaldunia.ZainuddindimakamkandisebelahmakamHayati.
3.Setting/latar
Latar dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka berlatar di daerah MinangkabaudanMakasar.

4.SudutPandang
Pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan menceritakan secara langsung karakter pelakunya secara gamblang. Penggalan cerita pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka sebagai berikut :“Mula-mula datang, sangatlah gembira hati Zainuddin telah sampai ke  negeri yang selama ini jadi kenang - kenagannya. ”(1986:26).
5.Karakter
Pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terdapat beberapa karakter di antaranya:
Karakter utama (mayor karakter, protagonis) adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh karakter utama yang ada dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Zainuddin, yang memiliki sopan santun dan kebaikan pada semua orang. Sedangkan yang lainnya yang menjadi tokoh protagonisnya adalah tokoh Hayati yang menjadi kekasih Zainuddin.
Penggalan cerita yang menunjukkan Zainuddin adalah karakter yang baik adalah:
“Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli seni, ahli sya’ir, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”.(1986:27) Karakter pendukung (minor karakter, antagonis) sosok tokoh antagonis dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Aziz, karena tokoh Aziz di sini mempunyai sikap yang kasar dan sering menyakiti istrinya, dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam keluarga dan selalu berbuat kejahatan karena sering main judi dan main perempuan.“…..ketika akan meninggalakan rumah itu masih sempat juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam ke sudut hati Hayati…..sial”. (181:1986)
Sedangkan yang menjadi karakter pelengkap adalah Muluk dan Mak Base karena keduanya adalah sosok yang bijak dan selalu berada di samping tokoh utama untuk memberi nasehat dan sangatsetiamenemanitokohutamasampaiakhircerita.
6.GayaBahasa
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan kalimat yang sangat kompleks karena menggunakan bahasa melayu yang baku. Seperti dalam penggalan cerita berikutini:“Lepaskan Mak, jangan bermenung juga,” bagaimana Mamak tidak akan bermenung, bagaimanahatimamaktidakakanberat………..”(1986:22)
7.Amanat
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung nilai moral yang tinggi ini terlihat dari para tokoh yang ada seperti Zainuddin. Hal tersebut bisa kita lihat dari penggalan cerita berikut ini :“Demikian penghabisan kehidupan orang besar itu. Seorang di antara Pembina yang menegakkan batu pertama dari kemuliaan bangsanya; yang hidup didesak dan dilamun oleh cinta. Dan sampai matipun dalam penuh cinta. Tetapi sungguhpun dia meninggal namun riwayat tanah air tidaklah akan dapat melupakan namanya dan tidaklah akan sanggup menghilangkan jasanya. Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak”. (1986:223)

Makna Yang Terkandung
  1. Kita janganlah  terlalu dikuasa oleh perasaan dengan tidak mempergunakan pikiran yang sehat, karena akan berakibat hilangnya kepribadian yang ada pada diri kita.
  2. Jika hendak memutuskan sesuatu hendaklah dipikirkan masak-masak lebih dahulu agar kelak tidak menyesal.
  3. Siapa berbuat jahat tentu akan mendapat balasan kelak sebagai akibat dari perbuatannya itu.
  4. Mengajarkan bagaimana perasaan cinta dan rindu terhadap seseorang sangat menyeksakan apabila hajat untuk bersama orang yang amat disayangi tak kesampaian. Itulah, masalah yang berlaku apabila kita tidak meletakkan keutamaan cinta kepada ilahi, serta terlalu cintakan dunia.
Biografi,Pengarang
HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau lahir di Molek, Meninjau, Sumatra Barat, Indonesia pada tanggal 17 Februari 1908. Ayah beliau bernama Syeh Abdul Karim bin Amrullah. Ketika Hamka berumur 10 tahun ayahnya membangun Thawalib Sumatra di Padang Panjang. Di sana Hamka belajar tentang ilmu agama dan bahasa Arab. Di samping belajar ilmu agama pada ayahnya, Hamka juga belajar pada beberapa ahli Islam yang terkenal seperti: Syeh Ibrahim Musa, Syeh Ahmad Rasyid, Sutan Mansyur dan Ki Bagus Hadikusumo. Pada tahun 1927 Hamka menjadi guru agama di Perkebunan Tinggi Medan dan Padang Panjang tahun 1929. tahun 1957-1958 Hamka sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhamadiyah Padang Panjang.
Hamka tertarik pada beberapa ilmu pengetahuan seperti: sastra, sejarah, sosiologi, dan politik. Pada tahun 1928 Hamka menjadi ketua Muhammadiyah di Padang Panjang. Tahun 1929 beliau membangun “Pusat Latihan Pendakwah Muhammadiyah” dua tahun kemudian menjadi ketua Muhammadiyah di Sumatra Barat dan Pada 26 juli 1957 beliau menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia.
Hamka sudah menulis beberapa buku seperti: Tafsir Al-Azhar (5 jilid) dan novel seperti; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di bawah Lindungan Ka’bah, Merantau Ke Deli, Di dalam Lembah Kehidupan dan sebagainya. Hamka memperoleh Doctor Honoris Causa dari Universitas Al- Azhar (1958), Doctor Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1974) dan pada 24 juli 1981Hamkameninggaldunia.

METODE QUANTUM TEACHING


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
      Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kwalitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia yang berkualitas yang akan mendukung tercapainya sasaran pembangunan nasional. Menurut Undang – undang  no 20 tahun 2003 tentang
Pendidikan Nasional Bab I pasal (1)[1]
“.Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”..
Keberhasilan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan di suatu sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang dimaksud misalnya guru, siswa, kurikulum, lingkungan sosial, dan lain-lain. Namun dari faktor-faktor itu, guru dan siswa faktor terpenting. Pentingnya faktor guru dan siswa tersebut dapat dirunut melalui pemahaman hakikat pembelajaran, yakni sebagai usaha sadar guru untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan kebutuhan minatnya.
Dengan adanya mutu pendidikan yang baik, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal (3) tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa : [2]
“Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
  Dalam mencapai tujuan pendidikan ini, pemerintah menggagas diberlakukannya kurikulum baru yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah. KTSP tersebut memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah.  Upaya pemerintah dalam bentuk KTSP ini merupakan pengembangan kurikulum. Dengan menggunakan KTSP diharapkan peserta didik bisa mencapai kompetensi-kompetensi tertentu yang sudah ditentukan sebagai kriteria keberhasilan.[3]
Dalam mata pelajaran IPA yang memerlukan banyak variasi metode, media, maupun sumber belajar karena mata pelajaran IPA terdapat materi yang memerlukan praktik kerja langsung. Melalui praktik siswa akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru melalui eksperimen.
Keberhasilan pembelajaran IPA juga tergantung pada keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar, sedangkan keberhasilan siswa tidak hanya tergantung pada sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum maupun metode. Akan tetapi guru mempunyai posisi yang sangat strategi dalam meningkatkan prestasi siswa dalam penggunaan strategi pembelajaran yang tepat.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran di SD Islam Nurul Ilmi Bekasi tidak kondusif, sehingga menyebatkan penurunan nilai mata pelajaran IPA. Adapun nilai mata pelajaran yang diperoleh siswa SD tersebut pada tahun ajaran 2010/2011 dibawah nilai standar yaitu 6,1, sedangkan nilai standar yaitu 6,5 maka dapat dikatakan bahwa dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tidak/ kurang optimal.
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara optimal adalah model pembelajaran Quantum Teaching. Model pembelajaran ini merupakan model percepatan belajar (Accelerated Learning) dengan metode belajar Quantum Teaching. Percepatan belajar yang di Indonesia dikenal dengan program akselerasi tersebut dilakukan dengan mengatasi  hambatan-hambatan yang menghalangi proses  belajar melalui upaya-upaya yang sengaja.
 Untuk mengatasi  hambatan-hambatan belajar berarti mengefektifkan dan mempercepat proses belajar dapat dilakukan misalnya: melalui penggunaan musik (untuk menghilangkan kejenuhan sekaligus memperkuat konsentrasi melalui kondisi alfa), perlengkapan visual (untuk membantu siswa yang kuat kemampuan visualnya), materi-materi yang sesuai dan penyajiannya disesuaikan dengan cara kerja otak, dan keterlibatan aktif (secara intelektual, mental, dan emosional).
Model pembelajaran ini menekankan kegiatannya pada pengembangan potensi manusia secara optimal melalui cara-cara yang sangat manusiawi, yaitu: mudah, menyenangkan, dan memberdayakan.Serta dikondisikan untuk saling mempercayai dan saling mendukung.
 Siswa dan guru berlatih dan bekerja sebagai pemain tim guna mencapai kesuksesan bersama. Dalam konteks ini, sukses guru adalah sukses siswa, dan sukses siswa berarti sukses guru.
Model pembelajaran Quantum Teaching dalam pembelajaran,  membagi unsur-unsur pembentuknya menjadi dua kategori, terdiri dari konteks dan isi. Konteks berupa penyiapan kondisi bagi penyelenggaraan pembelajaran yang berkualitas, sedangkan isi merupakann penyajian materi pelajaran.
Penyajian dalam pembelajaran Quantum Teaching mengikuti prosedur dengan urutan: (1) penumbuhan minat siswa, (2) pemberian pengalaman langsung kepada siswa sebelum penyajian, (3) penyampaian materi dengan multimetode dan multimedia, (4) adanya demonstrasi oleh siswa, (5) pengulangan oleh siswa untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar tahu, dan (6) penghargaan terhadap setiap usaha berupa pujian, dorongan semangat, atau tepukan Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 1999-2001).
Penyajian dalam pembelajaran Quantum Teaching merupakan model pembelajaran yang ideal, karena menekankan kerja sama antara siswa dan guru untuk mencapai tujuan bersama. Model pembelajaran ini juga efektif karena memungkinkan siswa dapat belajar secara optimal, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa secara signifikan.
Oleh karena itu model ini perlu dilaksanakan di sekolah-sekolah. Kenyataannya, model pembelajaran tersebut belum banyak diterapkan dalam proses pendidikan  Metode  belum banyak dikenal oleh komunitas pendidikan, kebanyakan guru lebih suka mengajar dengan model konvensional, yaitu model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centred instruction).
Guru bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar, menyajikan pelajaran dengan metode ceramah, latihan soal atau drill, dengan sedikit sekali atau bahkan tanpa media pendukung. Guru cenderung bersikap otoriter, suasana belajar terkesan kaku, serius, dan mati. Hanya gurunya yang aktif (berbicara), siswanya pasif. Jika siswa tidak dapat menangkap materi pelajaran, kesalahan cenderung ditimpakan kepada siswa. Dinding kelas dibiarkan kosong atau jika ada kebanyakan hanya berupa gambar pahlawan. 'I'idak ada ikon-ikon yang membangkitkan semangat dan rasa percaya diri siswa. Pendek kata, proses pembelajaran tidak memberdayakan dan membosankan. Dengan demikian proses pembelajaran menjadi tidak efektif, dan karenanya tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal.
            Karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan peserta didik akan dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan  yang terus berkembang.
Kekreatifan seseorang, terutama guru sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu, untuk menjadi guru yang ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri memahami bidang  studinya, juga mendalami pengetahuan lainnya sebagai khazanah dirinya.
Banyak terdengar keluhan guru-guru yg bosan untuk menunaikan tanggung
jawabnya, dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif dan terkadang salah dalam menenukan metode pembelajaran yang sesuai. Sehingga mereka jarang menjadi guru professional.
Fakta fakta yang ditemukan dilapangan menjelaskan bahwa guru atau tenaga pengajar  di SD Islam rata-rata menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka bersifat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu, siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalnya tanpa melupakan titik dan komanya sekalipun.
Berdasarkan alasan tersebut, penulis ingin memecahkan masalah dengan strategi pembelajaran Quantum Teaching, karena strategi tersebut bisa diterapkan di sekolah dasar. Seperti yang telah dikutip oleh Bobbi De Porter (dalam Ari Nilandri, 1994;4) menyatakan bahwa Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik, untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar.
Mengingat betapa erat hubungan antara metode mengajar dalam pendidikan, maka penulis ingin menuangkan dalam karya ilmiah  yang berupa skripsi yang berjudul ”METODE  PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA  SD ISLAM NURUL ILMI MUSTIKASARI BEKASI”
B.     Identifikasi Masalah
Berdasar latar belakang yang dikemukakan diatas diperoleh beberapa
identifikasi masalah sebagai berikut:
sehingga mempengaruhi penerimaan mata pelajaran IPA.`
1.      Bagaimana Model pembelajaran Quantum Teaching kedalam proses pembelajaran IPA  kelas IV  SD Islam Nurul Ilmi Bekasi
2.      Penulis ingin mengetahui dengan menerapkan metode Quantum Teaching  dapat membantu siswa merasa nyaman dan menyenangkan  dalam  belajar  IPA  di SD Islsm Nurul ilmi  Bekasi.
3.      Penulis ingin mengetahui perubahan  setelah menerapkan metode quantum Teaching   dalam pembelajaran IPA di SD Islam Nurul Ilmi
4.      Penulis Ingin mengetahui hasil belajar IPA dengan menerapkan metode Quantum Teaching  di SD Islam Nurul Ilmi Bekasi
5.      Penulis ingin mengetahui factor factor yang mempengaruhi belajar dalam metode Quantum teaching di SD Islam Nurul Ilmi Bekasi
C.    Pembatasan Masalah
Agar penulisan skripsi ini lebih terarah serta mencapai tujuan yang diharapkan, maka penulis membatasi permasalahan dalam penulisan ini  :
1.      Penelitian dibatasi pada Penerapan metode  Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA   pada siswa kelas IV SD Islam Nurul Ilmi Mustikasari Bekasi
2.      Dengan menggunakan metode QuantumTeaching, akan membawa perubahan yang siknifikan hasil belajar IPA siswa Kelas IV SD Islam Nurul Ilmi Mustikasari Bekasi
D.    Perumusan Masalah
Berdasarkan Identifikasi masalah dan pembatasan masalah  diatas maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan Hasil  belajar IPA  siswa kelas IV  di SD Islam Nurul Ilmi Mustikasari Bekasi ?
E.     Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagi guru, Untuk Mengetahui model pembelajaran Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV, mampu mempraktekan dan mengatasi permasalahan permasalahan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar
2. Bagi peneliti:
Diharapkan dapat menjadi bekal pengetahuan mengenai penerapan quantum Teaching  terhadap hasil  belajar dan dapat menerapkan dengan baik dalam proses belajar mengajar
3 . Bagi Kepala Sekolah:
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan terhadap kemampuan Penerapan Quantum Teaching yang dimiliki seorang guru sehingga akan lebih ditingkatkan lagi pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja guru
F.     Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan diatas bertujuan :
1.      Untuk mengetahui penggunaan  metode Quantum Teaching terhadap  Hasil belajar IPA siswa kelas 1V SD Islam Nurul Ilmi  Mustikasari Bekasi


 [1] Abd Rozak , Fauzan,Ali Nurdin, Kompilasi undang undang dan Peraturan Pendidikan (Jakarta:FITK Press UIN Syarif Hidayatullah,2010), h 4.
 [2] Ibit h. 6.
[3] Masnur Muslih, Seri SNP KTSP Dasar pemahaman dan Pengembangan, Jakarta:pt: Bumi Aksara, 2007,h,1.